Jumat, 10 Agustus 2012

The Journey (Begins) #1

Hai Kawan, ada 2 hal yang mau saya sampaikan lewat tulisan ini

A. The Beginning
Pertama, saya mohon maaf jika mengecewakan beberapa teman yang telah membaca tulisan/mendengar kata-kata bahwa saya akan memulai kembali memintal pikiran, wawasan, & wisdom yang saya terima lewat sebuah blog. Sudah banyak yang menganjurkan, bahkan ada teman yang bilang:
"Kalau lo bisa menulis sebagus lo present, You're perfect!"

Ya, menulis itu BERAT buat saya, tidak seperti kata2 yang keluar seperti air dari mulut, tenaga dari jari rasanya sedikit sekali. Rasanya jari ini dikekang beban ketikan ingin mulai. Blog inipun sejatinya ingin saya mulai sebulan yang lalu lewat artikel gaya hidup sehat yang saya janjikan kepada seorang teman saya Eva Y. Andari dari Young On Top Campus Ambassador, yang menawarkan kesempatan mengikuti lomba menulis artikel kesehatan dengan hadiah sebuah Galaxy Tab!. Namun insentif itu masih belum menggerakan jemari ini, artikel ini pun tersimpan sebagai draft setengah jadi di account saya...

I feel sorry guys & I want to make my first step comes true. Lagipula, jadi komunikator, leader, & motivator yang baik harus pandai menulis juga toh??? Semoga ada semangat yang sama dari tulisan2 saya....

B. The Journey
Kembali ke "tulisan yang mogok" sebelumnya, di tengah kekosongan artkel setengah jadi tersebut, seorang penulis dari sebuah media kesehatan terkemuka menelpon saya. Ia meminta saya menceritakan "The Journey" yang saya lalui untuk hidup sehat. Lewat hubungan telepon, dalam beberapa menit saya mencertitakan dengan lugas & antusias apa yang saya alami. Beberapa minggu kemudian saya terkagum melihat sebuah tulisan apik tentang diri saya yang sejatinya ingin saya wujudkan dulu. WOW, kata2 verbal saya menjadi artikel yang enak dibaca. Senang rasanya, tapi... andaikan saya yang menulis hal ini, pastilah lebih puas diri ini. Yes, artikel yang sejatinya ingin saya tulis untuk temanku Eva & menjadi artikel pertama adalah artikel di bawah ini:

http://duniafitnes.com/fat-loss/perjuangan-tak-kenal-lelah-andrew-untuk-turun-26-kilogram.html



Yasudalah, nasi sudah menjadi bubur. Artikel pertama saya sudah 'direbut' orang lain. Yang penting bentuknya tetap apik & saya dapat menginspirasi teman2 yang ingin melakukan diet & hidup lebih sehat.

Namun, ada "KUNCI-KUNCI PENTING" yang belum tersampaikan di artikel itu, inilah bagian kedua yang ingin saya ceritakan:

1. Becoming 2% Population
Saya sempat baca sebuah statement di Majalah Reader's Diggest Indonesia-Juni 2012, dari hasil riset di Amerika tentang kesuksesan dalam diet. Hasilnya hanya 2% dari populasi yang ingin menurunkan berat badan, dapat sukses melakukan diet dengan BENAR & mencapai hasil yang PROPORSIONAL. Astaga, memang diet sesulit itu ya??? Apakah sample & cakupan risetnya diatur sedemikian rupa agar tercapailah angka 2%?

Saya kira ada betulnya. "Dengan BENAR" adalah kata kuncinya, sama seperti prisip saya dalam diet "It's a Journey, not seasonal Change" diet itu soal berubah, merubah diri, kerakter, kebiasaan, pikiran, mental, dll. Sama halnya dengan sukses dalam bisnis, hanya sedikit orang yang bisa sukses dengan 'BENAR', karena diperlukan perubahan yang perlu WAKTU & tidak INSTANT.

Saya paling anti gaya diet instan dari beberapa teman & beberapa artikel tak bedasar. Seorang teman sukses turun >15kg dalam waktu 2 bulan dengan HANYA makan buah & sayur, dengan frekuensi yang jarang-jarang. Sukseskah? YA, sukses masuk ICU & sudah lebih dari 2 teman yang masuk :) Hati2 ya dengan obat2an & metode instan yang tidak berdasar, it bear a high cost to pay. If the methods wasn't meant to make your healthier, Ignore it!!!

2. Against The Culture
Sejak kakak saya menetap di Australia, saya jadi anak satu-satunya di rumah. Kakak saya berpesan agar sebisa mungkin menemani orang tua saya makan malam sepulang kerja. Itu akan menjadi tanda hormat bagi mereka walau tidak diminta. Yah iya sih, tapi di keluarga saya, yang namanya makan malam itu minimal pukul 22.00 & porsi makanpun termasuk luar biasa. Teman2 tahu sendiri pantangan terbesar jam makan bagi yang ingin menurunkan berat badan & saya melanggarnya selama bertahun-tahun.

Sejak SMA (110kg) saya mulai 'sadar badan' dan terpaksa melawan budaya-budaya yang saya praktekan selama bertahun-tahun, mulai dari mengganti nasi jadi sumber kambohidrat lain (oat, ubi, singkong), rutin berolah raga, makan porsi kecil dengan teratur, konsumsi banyak sayur & buah, dll. Mudahkan? Namanya juga "BUDAYA", yah susah lah. Ceritanya seperti berada di toilet yang hanya memiliki tissue saja, padahal selama belasan tahun kita biasa menggunakan air. Yes, sangat tidak nyaman, namun pil pahit harus ditelan.

Kebanyakan orang tua akan khawatir (berlebihan) ketika anaknya mulai diet & sulit mengerti langkahyang kita ambil. Namun maksud mereka mulia, mereka ingin anaknya tetap 'sehat' dan tidak kekurangan makan seperti saat mereka muda dulu. Sampai sekarang juga orang tua saya masih sering menggoda, kadang2 pake bawa pulang sop kambing pula -_-. Yah mau tidak mau, saya harus menghormati mereka, ikut duduk di meja makan (kadang2 makan juga), bercengkrama, & sambil menyerok sayur yang banyak ke piring mereka. Yes, it's a beautiful culture to keep.

3. NO EXCUSE!!!
Ini yang setengah mati susahnya, sampai2 sebuah brand pastry menggunakan tagline "Diet starts tomorrow". Seringkali diet gagal karena sebuah lubang kecil yang kita langgar dari rencana awal. Remember guys, if you allow yourself to make the 1st hole in your plan, then the 2nd hole will comes easier. Karena itu, buatlah diet progress/ 21 days discipline sheet untuk memotivasi diri. Jangan biarkan godaan sekecil apapun masuk, walau hanya sekecil 'kerupuk di antara gado-gado'.




Inspirasi Lainnya
Oya, saya ingin memperkenalkan beberapa teman yang memotivasi saya secara langsung maupun tidak langsung. Salah satunya Charlotte, adik kelas masa SMA yang saya temui di gereja pada bulan April. Through our meeting, I get inspired to start my diet again with higher discipline, Thanks Lotte :)You're an extreem survivor, goodluck buat karirnya sebagai model http://www.facebook.com/lottpoenya



My recent sources for diet:
http://www.duniafitnes.com
http://artofmanliness.com/

Thats all guys for now, masih banyak yang saya ingin bagikan, as wiseman said "Think Big, Start small, Move Fast". Saya tunggu masukan-masukannya & wait for my next article. Danke!

Sabtu, 30 Juni 2012

Hello Again My Blog

It's been a long time since the last time I posted here. Sebenarnya di 2012 ini saya ingin menulis lebih banyak di blog ini, minimal 1 posting/bulan. Through blogging I wish to improve my storytelling, improve my communication, introspection, share what I've learn, documenting what I've read, & Improve my english (I'm apologize if there will be several gramatical/spelling error, I'm still improving my English Linguistic skills). In the next 2 Post I'll share about: 1. How I encourage myself to start healthy life 2. My technical tips in Diet, according to my plan *I've promise to write it for @Evaandari & YOT Energy :) There are also several scrap from my life to share in the next post: 1. Tips in Business Plan Competition & my experience in HSBC YEC 2012 (as requested my Mrs. Ditha) 2. What I've learn from Community Development Project in rural village at Cianjur 3. & least but no least, insight in marketing :) I'll do it ASAP & feel free to comment. ENJOY! :) Regards, Andrew

Sabtu, 12 November 2011

Pidato Obama yang Membahana

By: Johanes Andrew

Student of Prasetiya Mulya Business School


Amatlah penting berbicara sesuai bahasa pendengarnya. Jika Anda berhasil melakukannya, mereka akan bilang, ‘wah, dia mengatakan persis seperti yang kami pikirkan.’ Dan begitu mereka mulai menghormati Anda karena itu, mereka akan mengikutimu sampai mati.


Lee Iacocca, pebisnis Amerika, penyelamat korporasi otomotif raksasa Chrysler di tahun 1980-an tidak keliru ketika mengucapkan kalimat itu. Siapa pun yang bisa melakukan pendekatan komunukasi kultural dan personal dengan baik, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Dalam hal apa saja, politik, ekonomi, teknologi dan lain-lain. Ungkapan itu sungguh tepat bila dibingkaikan kepada Presiden Obama yang minggu lalu berhasil membetot perhatian, konsentrasi, simpati dan empati warga negeri ini. Ia diterima bak seorang tamu agung yang harus dijamu dengan penyambutan khusus, pengawalan paten sampai dengan menu makanan istimewa. Riuh rendah penyambutan yang membahana di seluruh negeri berhasil meredam bahkan menenggelamkan suara-suara minor penentang kebijakan negeri paman Sam itu secara signifikan. Nyaris tidak ada demonstrasi penentang sang presiden pertama berkulit hitam di negeri kulit putih itu yang terekam dan tersiar secara massif di media cetak mau pun elektronik di negeri ini. Apa pasal? Kemampuan gaya komunikasi sang presiden-lah yang menjadi ramuan jitu peredam segala isu negatif dan destruktif terhadap negeri adikuasa itu.


Obama paling tidak telah mempraktikkan tiga prinsip komunikasi yang sangat fundamental. Ia telah berbicara secara intelektual, emosional dan psikologikal. Secara intelektual, Obama berhasil menyampaikan pokok-pokok pikirannya secara jernih, runtun, runut, teratur, terstruktur dan terukur. Setiap kata yang keluar dipilih secara hati-hati. Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya memiliki target yang ingin dicapai. Tidak ada kata yang terbuang sia-sia tanpa makna. Setiap diksi yang diucapkan terkadang dibuat bermakna tunggal, di saat lain bersayap. Hal itu adalah sebuah kesengajaan agar semua pokok pikirannya bisa disampaikan dengan cara yang intelek. Namun yang jelas adalah sistematika poin yang disampaikan sang presiden sungguh jelas dan mudah diikuti.


Secara emosional, ia berhasil menggugah emosi pendengarnya dengan mempraktikkan jembatan komunikasi emosional. Ia berhasil melakukan empati terhadap orang yang mendengarnya. Terasa sekali betapa ia sangat piawai mengguncang suasana kebatinan saat itu dengan mengeratkan ikatan emosi dirinya dengan audiens-nya ketika ia bercerita soal masa kecilnya di Jakarta dan makanan kesukaannya. Ungkapan dan frasa seperti ‘pulang kampung nih’, ‘sate’, ‘bakso’, ‘nasi goreng’, ‘semua enak’ benar-benar menyihir dan menghipnosis seluruh pendengarnya. Kesemuanya disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan lafal ucapan yang jelas dan native! Bisa dibayangkan, bagaimana histeria massa tidak segera membahana di ruang pidato di Universitas Indonesia itu. Elemen emosi menjadi poin terpenting yang dimainkan disini. Ia sadar bahwa ia tengah berahadapan dengan orang yang pastinya sangat bangga dengan negerinya sendiri. Ia juga sadar bahwa hanya dengan menempatkan diri sebagai bagian internal dan inklusif-lah kenyamanan kedua belah pihak (pembicara dan pendengar) akan dapat dibangun. Dan, ia berhasil mempraktikkan efek emosi itu dengan baik. Ini pulalah yang membuat ia berhasil menarik simpati warga Amerika ketika berkampanye dulu. Betapa ia kerap menggunakan isu ikatan emosional di setiap tempat yang ia kunjungi. Indikatornya, melalui banyak video kampanyenya dapat terlihat betapa banyak pendengar kampanyenya yang berkaca-kaca, meneteskan air mata, bahkan menangis saat mendengarkan pidatonya. Jika tidak berkaitan dengan emosi tentu hal itu tidak terjadi.


Secara psikologikal, Obama juga berhasil melakukannya. Ia mencoba menempatkan diri dimana pun ia berada. Ketika berbicara di hadapan pejabat resmi negara di istana, pilihan kata dan bahasa tubuh (gesture) yang digunakannya adalah bahasa resmi sesuai dengan tempatnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata seperti ‘pulang kampung nih’, karena ia tahu yang tengah berada di hadapannya adalah pejabat negara yang tidak terbiasa menggunakan bahasa gaul seperti itu. Ia pasti sadar bahwa ungkapan itu – pulang kampung nih – sebagai bahasa tidak resmi. Beda ketika ia menyampaikan pidato di depan sivitas akademika Universitas Indonesia yang rada tidak formal seperti di istana. Bahasa tubuh yang ditampilkan, diksi yang digunakan, semuanya terasa lebih luwes, rileks, cair dan mengalir, seolah tanpa pikir. Yang menarik juga ketika ia berada di Masjid Istiqlal. Ia paling sedikit dua kali mengucapkan kata ‘Insya Allah’ kepada Imam Besar masjid itu. Ia sungguh piawai menghadapi berbagai jenis manusia. Itulah esensi dari berbicara secara psikologikal. Ia mampu memahami latar belakang psikologis pendengarnya. Hal itu juga dipraktikkan olehnya ketika berkampanye. Kepada para janda tua, ia berbicara seolah ia juga bisa merasakan penderitaan mereka karena almarhum ibunya dulu juga seorang janda yang harus membesarkannya seorang diri. Kepada para pemuda ia menjamin pendidikan gratis bermutu, dan seterusnya. Ia tahu sedang berbicara kepada siapa. Inilah tipe komunikator ulung yang tidak banyak ditemukan.

Ketiga elemen komunikasi: berbicara secara intelektual, emosional dan psikologikal telah melekat secara inheren dalam diri Presiden Obama. Dengan modal itu, siapa pun pemiliknya, pasti akan sukses menuai apa yang ingin dicapai dalam setiap pidatonya. Karena disitu ada kesan elegan, simpatik dan empatik. Bukankah setiap orang merindukan untuk didengar dan dimengerti? Itulah daya sihir sang presiden yang sepatutnya dipelajari dan diaplikasi. Congratulations, Mr. Obama.


Source:

Minggu, 30 Oktober 2011

Mari #BantuBicara

Reza Firmansyah (4 tahun) adalah seorang anak penyandang tuna rungu ringan yang baru memasuki masa sekolahnya di salah satu SLB di dearah R.S. Fatmawati, Jakarta Selatan. Ibu Reza mulai menyadari keanehan pada anaknya saat Reza memasuki usia 3 tahun. Ia mulai curiga karena Reza tidak dapat berbicara dan tampaknya tidak dapat merespon kata-kata yang dilontarkan oleh sang Ibu. Reza pun diperiksa oleh Dokter & dinyatakan megalami kelainan pendengaran & tentunya kesulitan dalam berbicara, sehingga ia perlu menggunakan Alat bantu Dengar (ABD) yang merupakan sebuah langkah pertama baginya untuk belajar mendengar & berbicara.
Namun sayang pendapatan Ibu Reza dari bekerja sebagai buruh cuci tidak dapat mampu untuk membeli ABD yang harganya cukup tinggi, belum lagi biaya uang sekolahnya. Sangat disayangkan, masih banyak anak bernasib seperti Reza mengingat bahwa ada 6,000,000 (enam juta) penyandang tuna rungu di Indonesia (Tunarungu.net, 2011). Bagaimana kita dapat membantu Reza?
"TWITTER". Ya, hanya dengan dengan Twitter yang dapat anda akses secara Gratis dari Handphone/Komputer, anda dapat ikut membantu anak-anak seperti Reza untuk meraih masa depan yang lebih baik. Anda cukup melakukan Tweet seperti ini:

"@CaraBicara Tweet Saya membantu Tuna Rungu Indonesia mendapatkan Alat Bantu Dengar, FREE http://tinyurl.com/6ks7p54 #BantuBicara"

Setiap Tweet yang anda lakukan, akan disalurkan untuk menjadi Modal membeli Alat Bantu Dengar, maka semakin banyak Tweet yang masuk dengan Hashtag #BantuBicara, maka semakin banyak pula ABD yang akan kami salurkan kepada Anak-anak Penyandang Tuna Rungu di Indonesia lewat Yayasan Santiasih (Sekolah Luar Biasa), Jl. RS Fatmawati Jakarta Selatan.
Take Action Now...

"Every Tweet You Do Could help Them To Hear The Bird Sing & Say 'I Love You' to Their Parents :)"


"Setiap Tweet Anda berarti Bertambahnya seorang anak yang dapat Mendengar Kicauan Burung & Mengatakan 'Aku MencintaiMu Ibu" kepada sang Bunda"

Salam Hangat,

-Andrew, Admin @CaraBicara-




FAQ (Pertanyaan Umum)

1.Apakah ini sebuah penipuan?
Tidak Sama Sekali, kami menjamin kepastian dari gerakan ini & kami akan melaporkan hasilnya kepada Anda lewat blog ini dengan menyertakan bukti Dokumentasi penyerahan Alat bantu dengar bagi Reza & teman-temannya pada akhir masa pengumpulan suara (5 Desember 2011).

2. Dari manakah Sumber Dana untuk membeli ABD tersebut?
Sumber dana kami dapatkan dari perusahaan sponsor yang rela memberikan dukungan dana setiap kali anda me-Retweet dengan link pada Blog ini dengan hashtag #BantuBicara.

3. Apakah ini sebuah kegiatan Promosi dari perusahaan?
Bukan, walaupun sponsor berasal dari sebuah perusahaan, kegiatan ini TIDAK AKAN mencantumkan nama perusahaan/merek produk sama sekali dalam kegiatannya. Sehingga dapat kami pastikan bahwa bantuan tersalurkan secara Netral dengan mengatasnamakan ANDA sebagai pendukungnya.

4. Apakah Saya dapat memberikan masukan untuk calon penerima ABD?
Senasib dengan Reza? Sangat Boleh! Kirimkan masukan anda tersebut kepada kami di CaraBicara@gmail.com

5. Apakah ini sebuah Strategi Promosi Iklan Blog atau Social Media?
Apakah anda melihat keberadaan iklan pada Blog/Twitter kami? Tidak sama sekali :) Twitter kami gunakan hanya sebagai media untuk meraih dukungan Suara & penggunaannya sangat mudah serta Gratis.

6. Bagaimana bila saya tidak memiliki ID Twitter?
Anda dapat membuatnnya pada www.Twitter.com atau meminta kesediaan teman anda untuk melakukannya.

7. Pihak manakah yang dapat kami hubungi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gerakan ini?
Jika anda membutuhkan informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi Andrew lewat email CaraBicara@gmail.com.