Sabtu, 12 November 2011

Pidato Obama yang Membahana

By: Johanes Andrew

Student of Prasetiya Mulya Business School


Amatlah penting berbicara sesuai bahasa pendengarnya. Jika Anda berhasil melakukannya, mereka akan bilang, ‘wah, dia mengatakan persis seperti yang kami pikirkan.’ Dan begitu mereka mulai menghormati Anda karena itu, mereka akan mengikutimu sampai mati.


Lee Iacocca, pebisnis Amerika, penyelamat korporasi otomotif raksasa Chrysler di tahun 1980-an tidak keliru ketika mengucapkan kalimat itu. Siapa pun yang bisa melakukan pendekatan komunukasi kultural dan personal dengan baik, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Dalam hal apa saja, politik, ekonomi, teknologi dan lain-lain. Ungkapan itu sungguh tepat bila dibingkaikan kepada Presiden Obama yang minggu lalu berhasil membetot perhatian, konsentrasi, simpati dan empati warga negeri ini. Ia diterima bak seorang tamu agung yang harus dijamu dengan penyambutan khusus, pengawalan paten sampai dengan menu makanan istimewa. Riuh rendah penyambutan yang membahana di seluruh negeri berhasil meredam bahkan menenggelamkan suara-suara minor penentang kebijakan negeri paman Sam itu secara signifikan. Nyaris tidak ada demonstrasi penentang sang presiden pertama berkulit hitam di negeri kulit putih itu yang terekam dan tersiar secara massif di media cetak mau pun elektronik di negeri ini. Apa pasal? Kemampuan gaya komunikasi sang presiden-lah yang menjadi ramuan jitu peredam segala isu negatif dan destruktif terhadap negeri adikuasa itu.


Obama paling tidak telah mempraktikkan tiga prinsip komunikasi yang sangat fundamental. Ia telah berbicara secara intelektual, emosional dan psikologikal. Secara intelektual, Obama berhasil menyampaikan pokok-pokok pikirannya secara jernih, runtun, runut, teratur, terstruktur dan terukur. Setiap kata yang keluar dipilih secara hati-hati. Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya memiliki target yang ingin dicapai. Tidak ada kata yang terbuang sia-sia tanpa makna. Setiap diksi yang diucapkan terkadang dibuat bermakna tunggal, di saat lain bersayap. Hal itu adalah sebuah kesengajaan agar semua pokok pikirannya bisa disampaikan dengan cara yang intelek. Namun yang jelas adalah sistematika poin yang disampaikan sang presiden sungguh jelas dan mudah diikuti.


Secara emosional, ia berhasil menggugah emosi pendengarnya dengan mempraktikkan jembatan komunikasi emosional. Ia berhasil melakukan empati terhadap orang yang mendengarnya. Terasa sekali betapa ia sangat piawai mengguncang suasana kebatinan saat itu dengan mengeratkan ikatan emosi dirinya dengan audiens-nya ketika ia bercerita soal masa kecilnya di Jakarta dan makanan kesukaannya. Ungkapan dan frasa seperti ‘pulang kampung nih’, ‘sate’, ‘bakso’, ‘nasi goreng’, ‘semua enak’ benar-benar menyihir dan menghipnosis seluruh pendengarnya. Kesemuanya disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan lafal ucapan yang jelas dan native! Bisa dibayangkan, bagaimana histeria massa tidak segera membahana di ruang pidato di Universitas Indonesia itu. Elemen emosi menjadi poin terpenting yang dimainkan disini. Ia sadar bahwa ia tengah berahadapan dengan orang yang pastinya sangat bangga dengan negerinya sendiri. Ia juga sadar bahwa hanya dengan menempatkan diri sebagai bagian internal dan inklusif-lah kenyamanan kedua belah pihak (pembicara dan pendengar) akan dapat dibangun. Dan, ia berhasil mempraktikkan efek emosi itu dengan baik. Ini pulalah yang membuat ia berhasil menarik simpati warga Amerika ketika berkampanye dulu. Betapa ia kerap menggunakan isu ikatan emosional di setiap tempat yang ia kunjungi. Indikatornya, melalui banyak video kampanyenya dapat terlihat betapa banyak pendengar kampanyenya yang berkaca-kaca, meneteskan air mata, bahkan menangis saat mendengarkan pidatonya. Jika tidak berkaitan dengan emosi tentu hal itu tidak terjadi.


Secara psikologikal, Obama juga berhasil melakukannya. Ia mencoba menempatkan diri dimana pun ia berada. Ketika berbicara di hadapan pejabat resmi negara di istana, pilihan kata dan bahasa tubuh (gesture) yang digunakannya adalah bahasa resmi sesuai dengan tempatnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata seperti ‘pulang kampung nih’, karena ia tahu yang tengah berada di hadapannya adalah pejabat negara yang tidak terbiasa menggunakan bahasa gaul seperti itu. Ia pasti sadar bahwa ungkapan itu – pulang kampung nih – sebagai bahasa tidak resmi. Beda ketika ia menyampaikan pidato di depan sivitas akademika Universitas Indonesia yang rada tidak formal seperti di istana. Bahasa tubuh yang ditampilkan, diksi yang digunakan, semuanya terasa lebih luwes, rileks, cair dan mengalir, seolah tanpa pikir. Yang menarik juga ketika ia berada di Masjid Istiqlal. Ia paling sedikit dua kali mengucapkan kata ‘Insya Allah’ kepada Imam Besar masjid itu. Ia sungguh piawai menghadapi berbagai jenis manusia. Itulah esensi dari berbicara secara psikologikal. Ia mampu memahami latar belakang psikologis pendengarnya. Hal itu juga dipraktikkan olehnya ketika berkampanye. Kepada para janda tua, ia berbicara seolah ia juga bisa merasakan penderitaan mereka karena almarhum ibunya dulu juga seorang janda yang harus membesarkannya seorang diri. Kepada para pemuda ia menjamin pendidikan gratis bermutu, dan seterusnya. Ia tahu sedang berbicara kepada siapa. Inilah tipe komunikator ulung yang tidak banyak ditemukan.

Ketiga elemen komunikasi: berbicara secara intelektual, emosional dan psikologikal telah melekat secara inheren dalam diri Presiden Obama. Dengan modal itu, siapa pun pemiliknya, pasti akan sukses menuai apa yang ingin dicapai dalam setiap pidatonya. Karena disitu ada kesan elegan, simpatik dan empatik. Bukankah setiap orang merindukan untuk didengar dan dimengerti? Itulah daya sihir sang presiden yang sepatutnya dipelajari dan diaplikasi. Congratulations, Mr. Obama.


Source:

Minggu, 30 Oktober 2011

Mari #BantuBicara

Reza Firmansyah (4 tahun) adalah seorang anak penyandang tuna rungu ringan yang baru memasuki masa sekolahnya di salah satu SLB di dearah R.S. Fatmawati, Jakarta Selatan. Ibu Reza mulai menyadari keanehan pada anaknya saat Reza memasuki usia 3 tahun. Ia mulai curiga karena Reza tidak dapat berbicara dan tampaknya tidak dapat merespon kata-kata yang dilontarkan oleh sang Ibu. Reza pun diperiksa oleh Dokter & dinyatakan megalami kelainan pendengaran & tentunya kesulitan dalam berbicara, sehingga ia perlu menggunakan Alat bantu Dengar (ABD) yang merupakan sebuah langkah pertama baginya untuk belajar mendengar & berbicara.
Namun sayang pendapatan Ibu Reza dari bekerja sebagai buruh cuci tidak dapat mampu untuk membeli ABD yang harganya cukup tinggi, belum lagi biaya uang sekolahnya. Sangat disayangkan, masih banyak anak bernasib seperti Reza mengingat bahwa ada 6,000,000 (enam juta) penyandang tuna rungu di Indonesia (Tunarungu.net, 2011). Bagaimana kita dapat membantu Reza?
"TWITTER". Ya, hanya dengan dengan Twitter yang dapat anda akses secara Gratis dari Handphone/Komputer, anda dapat ikut membantu anak-anak seperti Reza untuk meraih masa depan yang lebih baik. Anda cukup melakukan Tweet seperti ini:

"@CaraBicara Tweet Saya membantu Tuna Rungu Indonesia mendapatkan Alat Bantu Dengar, FREE http://tinyurl.com/6ks7p54 #BantuBicara"

Setiap Tweet yang anda lakukan, akan disalurkan untuk menjadi Modal membeli Alat Bantu Dengar, maka semakin banyak Tweet yang masuk dengan Hashtag #BantuBicara, maka semakin banyak pula ABD yang akan kami salurkan kepada Anak-anak Penyandang Tuna Rungu di Indonesia lewat Yayasan Santiasih (Sekolah Luar Biasa), Jl. RS Fatmawati Jakarta Selatan.
Take Action Now...

"Every Tweet You Do Could help Them To Hear The Bird Sing & Say 'I Love You' to Their Parents :)"


"Setiap Tweet Anda berarti Bertambahnya seorang anak yang dapat Mendengar Kicauan Burung & Mengatakan 'Aku MencintaiMu Ibu" kepada sang Bunda"

Salam Hangat,

-Andrew, Admin @CaraBicara-




FAQ (Pertanyaan Umum)

1.Apakah ini sebuah penipuan?
Tidak Sama Sekali, kami menjamin kepastian dari gerakan ini & kami akan melaporkan hasilnya kepada Anda lewat blog ini dengan menyertakan bukti Dokumentasi penyerahan Alat bantu dengar bagi Reza & teman-temannya pada akhir masa pengumpulan suara (5 Desember 2011).

2. Dari manakah Sumber Dana untuk membeli ABD tersebut?
Sumber dana kami dapatkan dari perusahaan sponsor yang rela memberikan dukungan dana setiap kali anda me-Retweet dengan link pada Blog ini dengan hashtag #BantuBicara.

3. Apakah ini sebuah kegiatan Promosi dari perusahaan?
Bukan, walaupun sponsor berasal dari sebuah perusahaan, kegiatan ini TIDAK AKAN mencantumkan nama perusahaan/merek produk sama sekali dalam kegiatannya. Sehingga dapat kami pastikan bahwa bantuan tersalurkan secara Netral dengan mengatasnamakan ANDA sebagai pendukungnya.

4. Apakah Saya dapat memberikan masukan untuk calon penerima ABD?
Senasib dengan Reza? Sangat Boleh! Kirimkan masukan anda tersebut kepada kami di CaraBicara@gmail.com

5. Apakah ini sebuah Strategi Promosi Iklan Blog atau Social Media?
Apakah anda melihat keberadaan iklan pada Blog/Twitter kami? Tidak sama sekali :) Twitter kami gunakan hanya sebagai media untuk meraih dukungan Suara & penggunaannya sangat mudah serta Gratis.

6. Bagaimana bila saya tidak memiliki ID Twitter?
Anda dapat membuatnnya pada www.Twitter.com atau meminta kesediaan teman anda untuk melakukannya.

7. Pihak manakah yang dapat kami hubungi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gerakan ini?
Jika anda membutuhkan informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi Andrew lewat email CaraBicara@gmail.com.